RK Khawatirkan Corona Makin Luas Kalau Masyarakat Nekat Mudik

Gubernur Jawa Barat, RK (Ridwan Kamil) meminta seluruh masyarakat tidak memaksakan diri untuk pulang kampong atau mudik di tengah wabah corona ini. Sebab kalau tetap nekat mudik, bukan tidak mungkin penyebaran virus corona ini malah makin meluas.

Ridwan Kamil Takut Penyebaran Corona Makin Luas Setelah Mudik

“Kemungkinan besar bakal bertambah bila tetap memaksakan mudik,” ungkap Ridwan Kamil dilansir dari CNN Indonesia, pada ketua MUI kabupaten/kota se-Jabar dan juga ketua MUI Jabar, lewat video conference tepatnya di Gedung Pakuan, Kota Bandung, hari Kamis (9/4) kemarin.

Gubernur yang akrab disapa dengan Kang Emil ini mencontohkan beberapa kasus penularan corona karena mudik di beberapa daerah di Jabar. Misalnya salah satunya adalah seorang anggota keluarga di Ciamis yang tertular virus corona dari anaknya yang baru datang dari Jakarta. “Maka, sayangi lah keluarga di kampong halaman,” ungkapnya lagi.

Untuk itu lah, ia berharap MUI (Majelis Ulama Indonesia) tetap mempertimbangkan mengeluarkan fatwa haram untuk bisa menekan penyebaran virus corona ini. Dan Kang Emil yakin dengan fatwa ini dan imbauan dari pemerintah, arus mudik akan bisa ditekan, khususnya wilayah episentrum Covid-19 seprti di DKI Jakarta. “Saya berharap MUI bisa mengeluarkan fatwa haram mudik karena biasanya masyarakat lebih menuruti ulama,” ucapnya.

Fatwa haram mudik adalah kewenangan MUI Pusat. Jadi, Kang Emil berharap aspirasi daerah lewat MUI Jabar bisa dikomunikasikan pada MUI Pusat. “Mohon kiranya dikoordinasikan ke MUI Pusat. Biasanya kalau pernyataan dari MUI Jabar akan lebih mantap karena satu frekuensi dengan gugus tugas toto togel online yang melarang mudik,” katanya lagi.

MUI Jabar Janji Komunikasikan dengan MUI Pusat

Sedangkan, Rahmat Syafei, Ketua MUI Jabar, memiliki pedoman bahwa jika permasalahan bersifat nasional, maka yang mesti mengeluarkan fatwa adalah MUI Pusat. Dan dalam hal ini, MUI Jabar mendorong MUI Pusat untuk mempertimbangkan fatwa haram mudik itu. “Itu fatwa kewenangan MUI pusat karena masalahnya nasional namun kami akan coba komunikasikan,” ungkap Rahmat.

Akan tetapi, bila ditanya secara pribadi, Rahmat berpendapat dalam merangka memutus rantai penyebaran Covid-19, mudik tetap harus dicegah dikarenakan bisa berpotensi sangat besar menularkan virus ini. “Saya cenderung secara pribadi harus segera dikeluarkan fatwanya karena sangat berdampak besar dan juga membahayakan. Jadi, pada prinsipnya saya pribadi berpendangan bahwa mudik dalam kondisi sekarang ini dikategorikan haram,” ucapnya saat ditanyai soal hal ini.

Pemerintah Provinsi Jawa Barat ini sendiri sudah mengeluarkan maklumat larangan mudik dan juga bahkan piknik. Lalu pihak pemerintah Jabar juga sudah memberlakukan prosedur tetap kesehatan di terminal, bandara dan juga stasiun guna memastikan pemudik tak terpapar corona. Desa-desa di Jabar pun sudah memperketat pengawasan mobilitas warga yang masuk ke daerahnya. Aparatur desa juga sudah mendata pemudik yang datang dari daerah zona merah dan juga meminta mereka untuk mengisolasi diri selama 14 hari. Hal itu dilakukan dengan membentuk Satuan Tugas (Satgas) Tanggap Covid-19.

Dalam pertemuan diskusi ,jarak jauh itu, Kang Emil juga meminta pandangan dari para ketua MUI tentang sholat tarawih di rumah dan termasuk kemungkinan meniadakan salah Idul Fitri. “Mudah-mudahan dapat mendapatkan masukan dari MUI,” inginnya.

Rahmat, sementara itu, terkait tentang sholat tawarih, kemungkinan MUI bakal mengeluarkan fatwa larangan tarawih di masjid dan bisa dilakukan di rumah masing-masing. Menurutnya, pahala yang didapat dari sholat tarawih di rumah akan dua kali lipat karena menjaga kehidupan umat dan ibadah tarawih tetap sah jika dilaksanakan di rumah.